James Derulo's

Portfolio

Punya sepak terjang yang panjang di industri game namun berujung lebih dikenal sebagai otak di balik seri Souls dan judul lain dengan pendekatan gameplay yang serupa, posisi From Software di industri game memang unik. Mereka sendiri memang sudah berkali-kali angkat bicara soal komitmen untuk tidak hanya dikenal sebagai peracik seri Souls saja, tetapi juga tangan dingin di balik banyak game berkualitas yang lain. Ada keinginan untuk menjajal dan meracik game baru dengan pendekatan berbeda, di tengah harapan gamer bahwa mereka akan kembali mengeksplorasi franchise lawas mereka yang saat ini vakum, seperti Armored Core misalnya. Harapan yang sepertinya, tidak terlalu muluk.

Berbicara dengan situs game Jepang – 4Gamer.net, presiden From Software sekaligus otak di balik seri Souls dan Bloodborne – Hidetaka Miyazaki menegaskan komitmen tersebut. Ia menyebut bahwa selain Deracine – game VR mereka yang sudah dirilis dan Sekiro: Shadows Die Twice yang akan meluncur dalam waktu dekat ini, From Software masih punya 2 judul game yang masih belum diumumkan kepada publik. Ia belum bisa berbicara banyak terkait dua game ini, namun memastikan bahwa keduanya akan punya cita rasa yang “sangat From Software”. Mereka butuh lebih banyak waktu sebelum bisa memperlihatkannya pada gamer.




Berusaha menawarkan cita rasa JRPG lawas, terutama untuk mereka yang sempat jatuh hati dengan Legend of Dragoon, apa yang ditawarkan oleh game RPG Indonesia – Legrand Legacy memang terhitung memesona. Walaupun tidak bisa dibilang sempurna, mereka meracik sebuah game RPG dengan cerita yang cukup menarik dan tingkat kesulitan yang tidak bisa dianggap remeh, dan yang pastinya, berhasil menyuntikkan sensasi JRPG klasik yang memang dirindukan oleh banyak gamer. Setelah sempat dirilis untuk PC, Legrand Legacy: Tale of the Fatebounds akhirnya akan menuju konsol dengan Nintendo Switch sebagai “rumah pertama” untuknya.

Konfirmasi rilis Legrand Legacy untuk konsol memang sudah mengemuka cukup lama. Namun dari ketiga konsol generasi saat ini yang tersedia, Nintendo Switch sepertinya menjadi prioritas. Sang developer – Semisoft dan publisher – Another Indie akhirnya mengkonfirmasikan bahwa rilis Legrand Legacy untuk versi Switch akan dilepas bulan ini juga! Dari informasi yang mengemuka, sepertinya tidak ada perbedaan dari sisi konten dibandingkan versi PC yang sudah tersedia sejak tahun 2017 silam. Satu yang pasti, Anda kini berkesempatan untuk menikmatinya dalam format handheld.




Sony, Microsoft, dan Nintendo, persaingan pasar konsol di industri game memang selalu melibatkan tiga nama besar yang posisinya tidak bisa digeser ini. Ada beberapa upaya untuk melakukan penetrasi yang sama dengan pendekatan yang unik dan berbeda, namun jarang membuahkan hasil yang positif. Walaupun demikian, perjuangan untuk memakan porsi perangkat keras di pasar konsol yang dikuasai oleh tiga nama besar ini tidak berhenti sampai di sana saja. Salah satu developer game racing ternama – Slightly Mad Studios yang lebih dikenal lewat game Project Cars mereka ternyata berupaya untuk terjun ke pasar yang sama. Mereka resmi mengumumkan The Mad Box.

Lewat cuitan Twitter resminya, CEO Slightly Mad Studios – Ian Bell memastikan bahwa mereka tengah mempersiapkan sebuah konsol baru yang disebut sebagai The Mad Box. Walaupun belum memperlihatkan seperti apa bentuknya, The Mad Box akan didesain sebagai konsol terkuat yang pernah ada.

Targetnya adalah sebuah konsol yang mampu menikmati game di resolusi 4K, sekaligus mampu memaksimalkan game VR dengan framerate minimal – 60fps hingga 120fps di setiap mata. The Mad Box juga disebut-sebut tidak akan mengusung game eksklusif serta dukungan peripheral pihak ketiga yang lebih luas. Slightly Mad Studios bahkan mengklaim bahwa harganya sendiri akan kompetitif.




Walaupun bukan seri terbaru seperti yang selama ini diharapkan, menemukan kembali nama Onimusha di persaingan game generasi terkini tentu saja jadi pemandangan yang pantas untuk disambut baik. Setelah bertahun-tahun ditinggalkan begitu saja, Capcom akhirnya memutuskan untuk mengeksplorasi kembali franchise yang meminta Anda bertarung sebagai samurai melawan para iblis dari dunia lain ini. Tidak sebagai seri terbaru memang, namun sebagai proyek Remaster yang akhirnya juga diluncurkan secara resmi untuk PC. Dengan tanggal rilis yang kian dekat, Anda yang tertarik tentu mulai harus mempersiapkan diri.

Untungnya, mengingat ia masih berbasiskan engine yang sama dengan versi Playstation 2 namun dengan tekstur definisi tinggi, seri Remaster Onimusha pertama yang disebut sebagai Onimusha: Warlords ini tidak terhitung berat. Kesempatan untuk menikmatinya di visual lebih baik dan framerate lebih tinggi menjadi daya tarik terkuat. Lantas, spesifikasi seperti apa yang perlu Anda persiapkan?


Minimum Requirements
OS: Windows 7 64bit
Processor: Intel® Core™ i3 Dual Core Series or AMD equivalent or better
Memory: 4 GB RAM
Graphics: NVIDIA GeForce GTX 760 or AMD Radeon R7 260x
DirectX: Version 10
Storage: 12 GB available space
Sound Card: DirectSound (DirectX® 10.0c or better)

Recommended Requirements
OS: Windows10 64bit
Processor: Intel® Core™ i7 3770 3.4GHz or AMD equivalent or better
Memory: 8 GB RAM
Graphics: NVIDIA GeForce GTX 960
DirectX: Version 11
Storage: 16 GB available space
Sound Card: DirectSound (DirectX® 10.0c or better)



Ada banyak game yang berhasil mencuri perhatian gamer sejak pertama kali ia diperkenalkan, baik lewat kekuatan cerita, kombinasi musik di trialer yang tepat, ataupun pendekatan visual yang unik. Ketika kita berbicara soal game indie – The Last Night, ia sepertinya berhasil membuat tiga poin tersebut mengemuka dengan manis di beberapa trailer pengenalan yang sempat dirilis sebelumnya. Hadir dengan visualiasi 2.5D di dunia distopia futuristik dengan lampu neon yang menyala terang, game platformer penuh misteri ini memang langsung tumbuh menjadi salah satu game yang paling diantisipasi. Sempat direncanakan dirilis untuk tahun 2018, jelas bahwa game ini melewatkan jendela rilis yang sempat ditentukan.

Tim Soret – otak di balik Odd Tales, developer dari The Last Night itu sendiri akhirnya angkat bicara. Ia melaporkan bahwa tahun 2018 sebenarnya adalah tahun yang “manis” untuk proses pengembangan game ini. Mereka berhasil menggandakan jumlah tenaga kerja untuk menyelesaikannya, sekaligus meyewa sebuah studio di pusat kota London. Mereka terus menyempurnakan The Last Night dengan teknik visualisasi baru, sekaligus merayakan budget yang juga meningkat. Namun sayangnya, mereka punya masalah pelik.


Soret menyebut bahwa sayangnya, tahun ini juga ditutup dengan masalah dari sisi legal dan finansial yang cukup besar dan masih berupaya untuk mereka selesaikan. Masalah yang juga membuat mereka harus menarik diri dari The Game Awards 2018 kemarin, setelah sempat merencanakan untuk melepas sebuah trailer terbaru. Oleh karena itu, di tengah peliknya kondisi keuangan perusahaan, mereka saat ini tengah berupaya untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan. Spekulasi yang merebak sempat meyakini bahwa masalah finansial tersebut terjadi karena pertikaian dua publisher yang berebut hak rilis untuk The Last Night itu sendiri.




Sudah bukan rahasia lagi sepertinya bahwa di setiap rilis seri utama Persona ke pasaran, Atlus tidak akan membiarkannya untuk sekedar muncul dalam satu seri game saja. Beragam konten pendukung selalu mengikuti, dari sebuah seri spin-off hingga seri animasi seperti seri-seri sebelumnya. Satu hal yang selalu mereka lakukan? Melepas sebuah seri lebih sempurna yang biasanya dirilis ulang dengan nama baru. Seri lebih sempurna tersebut terkadang memuat konten cerita baru, karakter utama yang berbeda, hingga ragam fitur yang terlihat menggoda bahkan untuk gamer yang sudah mencicipi seri originalnya. Kini strategi yang serupa juga sepertinya akan ditawarkan untuk Persona 5.

Sudah menjadi rahasia umum sepertinya, terutama lewat pendaftaran domain situs sejak beberapa bulan yang lalu, bahwa Atlus memang tengah mempersiapkan sesuatu yang baru dengan Persona 5. Konfirmasi tersebut akhirnya meluncur. Lewat sebuah video teaser super pendek yang tidak banyak memberikan detail, Atlus akhirnya secara resmi mengumumkan Persona 5 R. Secara sekilas, ia terlihat seperti versi sempurna ala “FES” untuk Persona 3 dan “Golden” untuk Persona 4 di masa lalu. Tidak seperti rumor yang sempat beredar sebelumnya, Playstation diperkenalkan sebagai platform utama untuk Persona 5 R ini alih-alih Nintendo Switch.




“Game single player akan tewas dan ini adalah eranya game multiplayer”, wacana yang sempat didengungkan oleh beberapa publisher raksasa tersebut memang terdengar seperti masa depan industri game yang tidak ingin kita hadapi. Untungnya, beberapa pemain besar di industri ini masih percaya akan kekuatan video game sebagai sebuah media cerita yang mumpuni, seperti yang dilakukan Sony Interactive Entertainment dengan game-game eksklusif mereka. Kita berbicara soal Uncharted, The Last of Us, Horizon Zero Dawn, Marvel’s Spider-Man, hingga Detroit: Become Human yang tampil memesona. Berita baiknya? Kebijakan Sony untuk urusan ini sepertinya tidak akan berubah.

Fokus Sony untuk terus meracik game eksklusif dengan kekuatan di sisi cerita dalam format sinematik sepertinya akan terus berlanjut di masa depan. Hal ini terlihat dari lowongan pekerjaan terbaru yang mereka lepas untuk sebuah proyek misterius tanpa nama. Mereka mencari beberapa talenta baru, termasuk seorang Lead Character Artist yang akan punya tanggung jawab untuk proyek yang mereka sebut sebagai “Level Selanjutnya dari Penceritaan Sinematik”. Lead Character Artist ini akan berdiri di bawah bendera Worldwide Studios dan akan ikut berkontribusi dalam kerja studio first party Sony yang lain.