James Derulo's

Portfolio

Sebagian besar dari kita mungkin tengah bersiap menantikan kehadiran tahun 2019 yang tanpa belas kasihan, langsung memulai tiga bulan pertamanya dengan game-game yang memesona. Bagi gamer yang sudah berlangganan layanan Playstation Plus yang juga membagikan game-game gratis setiap bulannya, ini juga berarti ekstra perhatian untuk melihat penawaran seperti apa yang ditawarkan oleh Playstation, terutama untuk region Asia. Tidak mengecewakan, Sony langsung memulainya dengan dua game raksasa dari Ubisoft sebagai “bonus” awal tahun.

Setelah menantikan cukup lama, Playstation Asia akhirnya mengumumkan game “gratis” Playstation 4 untuk bulan Januari 2019 mendatang. Selain kesempatan untuk mendapatkan tema eksklusif dan juga musik dari Final Fantasy Sound Selection, gamer juga bisa akan mendapatkan game multiplayer Ubisoft – The Division dan game olahraga ekstrimnya yang unik – Steep. Kedua game tersebut akan bisa diunduh mulai dari tanggal 10 Januari 2019 dan akan tersedia sampai tanggal 6 Februari 2019 mendatang. Game-game ini akan terus bisa Anda akses kapanpun Anda inginkan selama layanan Playstation Plus tetap aktif.



Salah satu game JRPG yang tersedia di pasaran, pengakuan atas kualitas yang ditawarkan Atlus untuk Persona 5 memang tidak terbantahkan. Dilepas untuk platform generasi saat ini, mereka berhasil meracik game yang tidak hanya bertahan dengan sistem kehidupan nyata ala seri sebelumnya yang semakin kompleks saja, tetapi juga menyempurnakannya dari sisi visual dengan pendekatan yang bahkan lebih penuh gaya. Di atasnya, seperti bumbu masakan yang tepat, mereka menyuntikkan musik yang memperkuat semua aspek tersebut dengan begitu tepatnya. Mengingat kebijakan Atlus selama ini, sepertinya bisa diprediksi bahwa Persona 5 tidak akan jadi satu-satunya iterasi yang diusung. Rumor tersebut menguat dengan pendaftaran beberapa domain situs baru dengannya.

Setelah sempat mendaftarkan domain untuk Persona 5 R alias P5R.jp yang saat ini sudah dipindahkan ke server resmi Atlus tanpa ada informasi lanjutan, Atlus kabarnya sudah mempersiapkan beberapa domain baru terkait game JRPG yang satu ini. Ryu’s Office – perusahaan yang bertanggung jawab untuk proses ini baru saja mendaftarkan setidaknya tujuh buah domain berbeda. Spekulasi yang muncul menyakini bahwa nama-nama ini bisa berujung tidak hanya iterasi baru Persona 5 seperti versi “Golden” di masa lalu saja, tetapi juga kemungkinan rilis untuk platform lain seperti Nintendo Switch dan PC.


Ketujuh domain tersebut adalah: Persona5R.jp, P5B.jp, Persona5B.jp, P5M.jp, Persona5M.jp, P5S.jp, dan Persona5S.jp.




Denuvo adalah sistem anti-bajakan paling populer di industri game saat ini. Walaupun efektivitasnya sendiri dipertanyakan dengan beberapa produk ternama yang berujung dibobol dalam hitungan jam atau hari saja, ia tetap dijadikan sebagai ujung tombak banyak publisher raksasa untuk melindungi produk mereka. Di tengah nama yang kian memburuk ini, sistem anti-bajakan baru bernama Valeroa mengemuka ke pasaran! Hadir sebagai sistem DRM yang diklaim lebih efektif dan tidak membutuhkan internet, ada yang “istimewa” dengan Valeroa. Bahwa berbeda dengan Denuvo yang terus melapisi diri dengan versi terbaru, Valeroa berusaha melindungi diri dan konsumen yang percaya dengan mereka dengan satu strategi baru – Doxxing.

Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, Doxxing merupakan tindakan tidak etis di dunia maya dimana satu orang / kelompok mencari tahu, membuka, dan menyebarkan informasi terkait identitas dunia nyata satu orang / kelompok yang lain. Hal inilah yang dilakukan sistem anti-bajakan baru – Valeroa. Kelompok peretas ternama – CPY yang baru saja meretas game yang dilindungi Valeroa – City Patrol Police menemukan sebuah pesan tersembunyi yang terhitung menyeramkan. Lewat pesan tersebut, Valeroa memanggil dan menyebut nama-nama di balik scene peretas, tidak hanya alias saja, tetapi juga nama asli yang berujung disensor oleh CPY di halaman NFO game tersebut.


Valeroa memanggil nama-nama peretas dengan nama asli, sembari menyebut di kelompok mana mereka bersemayam. Lewat inisial yang ada, mereka setidaknya mengenali beberapa orang di balik CPY, RZR, hingga Skidrow dan tidak ragu melemparkan nama tersebut begitu saja. Ini kian memperkuat spekulasi bahwa orang-orang Valeroa merupakan orang-orang yang dulunya sempat terlibat aktif dalam scene pembajakan sebelum kini berdiri di posisi yang bertolak belakang atas nama uang. Langkah tidak etis sendiri memicu perbincangan yang ramai di komunitas game bajakan yang sepertinya meyakini bahwa aksi doxxing balasan akan dilancarkan oleh scene pembajakan yang namanya disebut-sebut di sini.




Meracik sebuah petualangan baru untuk sang manusia laba-laba yang popularitasnya kini kembali menanjak setelah aksinya di Marvel Cinematic Universe adalah kondisi yang tak ubahnya, pedang bermata dua. Semua mata memandang dan Insomniac punya tugas berat untuk memastikan bahwa Marvel’s Spider-Man PS4 memang adalah sebuah game yang mampu menawarkan daya tarik aksi Spider-Man dalam kapasitas yang seharusnya, lengkap dengan level interaktivitas yang tepat. Berita baiknya? Seperti sesi gameplay kami beberapa waktu lalu, pengalaman lengkap yang beruntungnya bisa kami cicipi lebih awal ini, menegaskan hal tersebut. Marvel’s Spider-Man tampil sebagai game Spider-Man yang sudah lama Anda antisipasi.

Secara visual, ia terlihat mengagumkan. Insomniac sepertinya punya komitmen kuat untuk memastikan bahwa “taman bermain” Anda tidak akan sekedar luas saja, tetapi juga mewakili New York yang seharusnya di semesta Marvel itu sendiri. Bebas Anda eksplorasi sejak misi pertama selesai, Anda bisa menikmati sistem mengayun dan melompat khas Spider-Man yang tepat sasaran di sini, sembari bergerak menyelesaikan ragam misi sampingan yang ada. Mengingat ini adalah New York “versi Marvel”, Anda juga akan menemukan beberapa tempat ikonik, dari Avengers Tower, Kedutaan Wakanda, hingga Hell’s Kitchen – lokasi yang dilindungi oleh Daredevil. Kehadiran tempat-tempat ini seolah menguatkan kesan bahwa Spider-Man yang tengah Anda cicipi saat ini, adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.


Sayangnya, jika berbicara soal misi sampingan, apa yang ditawarkan Marvel’s Spider-Man ini memang tidak bisa dibilang istimewa. Ia masih menawarkan desain misi standar berbasis ikon dan tower yang mulai ditinggalkan oleh banyak game open-world saat ini. Namun ada satu berita baik. Berbeda dengan game open-world serupa yang seringkali membuat misi-misi kecil ini sulit atau bertele-tele, Marvel’s Spider-Man meracik setiap darinya sebagai pengalaman yang ringkas dan bisa cepat Anda selesaikan untuk ekstra reward. Kehadiran reward berupa Token yang bisa Anda gunakan untuk meracik beragam kostum berbeda yang masing-masing punya kemampuan berbeda. Anda bisa menggantinya kostum ini dengan bebas.



Tidak ada lagi cerita awal bermula Peter Parker mendapatkan kekuatannya sebagai seorang manusia laba-laba, Marvel’s Spider-Man memosisikan Anda sebagai seorang Peter Parker yang terhitung sudah “veteran” untuk urusan menyelamatkan kota yang ia cintai – NYC dari ancaman para penjahat yang beberapa di antaranya, juga memiliki kemampuan super power yang tak kalah mematikan. Kita berbicara soal sosok Peter yang kini lebih dewasa, matang, dengan posisi sang mantan kekasih – Mary Jane yang juga sudah mengetahui identitasnya.

8 tahun berjuang dan Spider-Man akhirnya berkesempatan untuk menundukkan sang tokoh antagonis utama yang menjadi otak dan dalang di balik begitu banyak tindak kejahatan – Wilson “The Kingpin” Fisk. Bukti sudah terkumpul sempurna, pihak keamanan sudah bergerak, dan Fisk tak lagi bisa mengelak. Tugas berat tersebut akhirnya berhasil dicapai tanpa korban jiwa, membuat perjalanan Spider-Man seolah sudah berada di puncak kesuksesan. Dengan ditangkapnya Kingpin, NYC seharusnya menjadi kota yang jauh lebih aman dan nyaman. Namun yang terjadi, justru sebaliknya.


Dengan hilangnya posisi The Kingpin sebagai pemimpin aktivitas kriminal di NYC, kota nan ramai ini justru jatuh pada kekacauan. Tidak ada lagi sosok yang menguasai, mengatur, dan menjalankan semua organisasi, membuat banyak dari mereka bermimpi untuk menjadi The Kingpin selanjutnya dan berakhir menjadi penguasa menggantikan Wilson Fisk. Perjuangan Spider-Man ternyata belum berakhir sampai di sana. Gelombang ancaman baru datang dan kali ini muncul dari sumber yang tak pernah ia perkirakan sebelumnya.

Di tengah suasana kampanye Norman Osborne yang berusaha menjadi Mayor dua periode untuk NYC, ancaman baru muncul setelah jatuhnya Kingpin. Shocker – salah satu musuh utama Spider-Man yang mengandalkan dentuman suara sebagai kekuatan utama, tertangkap tangan berusaha mencuri uang dari sebuah bank. Tindakan tergesa-gesa dan tanpa perhitungan ini membuat Spider-Man dan koleganya di kepolisian – Yuri Watanabe mencurigai bahwa aksi Shocker ini tidak didasarkan pada kebutuhan dirinya sendiri, tetapi karena ia bekerja untuk organisasi yang lebih besar. Ada sesuatu yang tengah terjadi di belakang layar, di tengah vakumnya kepemimpinan Kingpin itu sendiri. Benar saja, tidak perlu menunggu terlalu lama hingga sebuah pasukan baru bernama “Demons” dengan topeng oriental mereka mulai meneror kota. Di baliknya, musuh baru bernama Mr. Negative mencengkeram.




Dengan fokus gameplay yang memang lebih difokuskan untuk mode multiplayer, Bandai Namco dan sang developer – Soliel memang meniadakan mode campaign / story mode yang selama ini menjadi bagian paling seru dan tidak terpisahkan dari seri Naruto Ultimate. Tidak ada lagi kesempatan untuk menikmati perjalanan Naruto sejak ia kecil, menguat, dan akhirnya menjadi Hokage di pertarungan yang penuh darah dan air mata. Naruto to Boruto: Shinobi Striker menyederhanakannya dalam format yang mungkin tidak disukai semua gamer. Tetapi jika soal cerita itu sendiri, game ini tetap punya basis.

Alih-alih Naruto atau Boruto, Anda berperan sebagai seorang ninja tak dikenal yang desain visual dan asalnya harus Anda rancang sendiri. Ceritanya berkisar soal Konoha yang tengah menyelenggarakan sebuah turnamen Chunin Exams yang tentu saja, akan diikuti oleh ninja dari desa-desa yang lain. Struktur cerita yang cukup menjelaskan pondasi untuk mode multiplayer kompetitifnya. Sementara untuk apa yang bisa kita sebut sebagai “cerita”, ia kini dijelaskan tidak lebih dari teknologi VR Mission terbaru yang diadopsi oleh Konoha. Dengan menggunakan teknologi ini, para ninja yang tengah mampir untuk Chunin Exams bisa melatih diri dengan bertarung di beragam skenario ikonik dunia perninjaan di masa lalu.  Termasuk bertarung dengan para Akatsuki sekalipun. Itulah basis untuk  “cerita” Shinobi Striker.


Dengan konsep seperti ini, kisah panjang Naruto kini dibagi layaknya misi-misi sampingan yang di dalamnya, memuat sedikit cut-scene dan potongan cerita soal apa yang tengah terjadi dan apa yang mendasari misi Anda. Tidak lagi sebuah mode cerita berkesinambungan dengan sudut pengambilan kamera sinematik ataupun yang dibuka dengan cut-scene pertarungan epik pre-rendered yang siap untuk membuat para fans Naruto kegirangan. Shinobi Striker memang bukan seri yang ditujukan untuk hal tersebut.

Apakah ini berarti Shinobi Striker adalah game yang hanya bisa dimainkan secara online saja? Untungnya tidak. Misi-misi yang kami ceritakan ini memang bisa dimainkan dalam format online kooperatif untuk pengalaman bermain yang lebih optimal dan lebih mudah. Tetapi Anda yang tidak punya koneksi internet yang bisa diandalkan selalu bisa menempuh misi-misi ini seorang diri, mendapatkan reward, dengan konsekuensi pertarungan yang bisa berjalan lebih lama dan hilangnya elemen keseruan online yang seharusnya. Shinobi Striker bisa dimainkan secara offline, hanya saja kami tidak merekomendasikannya.



Jatuh cinta pada pandangan pertama, pendekatan modern yang ditawarkan Square Enix untuk Dragon Quest XI memang tercermin lewat implementasi visual yang pantas untuk diacungi jempol. Dengan cita rasa kartun yang kuat, permainan warna yang cerah, desain dunia dan karakter, hingga sekedar ragam efek serangan membuatnya jadi game JRPG yang memanjakan mata. Bahwa Anda akan merasa tengah masuk untuk berperan menyelamatkan dunia fantasi yang terbagi ke dalam beragam kerajaan ini. Kompensasi dari rilis versi barat yang cukup lama dibandingkan versi Jepangnya ditawarkan dalam bentuk voice acting yang juga tidak kalah memukau. Akses beragam negara Eropa dijadikan basis untuk memberikan “kehidupan” bagi karakter-karakter yang memang berasal dari beragam kebudayaan tersebut.

Kerennya, di tengah cita rasa yang lebih modern lewat animasi dan pendekatan visual ini, Dragon Quest XI mengusung cita rasa JRPG yang masih sama klasik dan kentalnya. Sebuah game yang menjadikan cerita soal kepahlawanan melawan sumber kejahatan yang begitu menakutkan sebagai dasar, dihiasi dengan beragam kisah lainnya yang siap untuk menggetarkan hati Anda. Sistem pertarugan berbasis turn-based, misi sampingan yang tersebar, eksplorasi dengan reward sepadan, hingga sistem crafting untuk mendapatkan senjata terkuat bisa Anda temukan semua di sini. Tidak harus selalu menyibukkan diri Anda sendiri, Anda juga bisa mengandalkan sistem pertarungan otomatis dengan membiarkan AI mengendalikan setiap aspeknya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengatur strategi yang ingin Anda dorong via menu “Tactics” saja.


Dengan cerita yang memesona sejauh ini, kami sendiri sudah menyentuh waktu permainan sekitar 42 jam dengan beberapa jam dihabiskan untuk berburu item di kasino. Namun percaya atau tidak, walaupun kisahnya sudah memasuki babak kedua yang cukup dramatis, kami sepertinya masih akan butuh waktu lebih lama lagi untuk menyelesaikannya. Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review, izinkan kami melemparkan segudang screenshot fresh from oven di bawah ini untuk memberikan Anda gambaran apa itu Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age.