James Derulo's

Portfolio

Produk setengah hati? Atau memang sekedar didesain sebagai collectibles yang menggunakan nostalgia sebagai motivasi beli utama? Satu yang pasti, diskusi terkait rilis ulang konsol lawas mereka dalam bentuk baru – Playstation Classic memang bukan “berita baik” untuk Sony sejauh ini. Review di nilai standar atau bahkan di bawah standar, lengkap dengan keputusan untuk menggunakan beberapa game versi PAL yang berjalan di framerate lebih rendah, hingga fitur yang terbatas membanjiri diskusi terkait konsol yang memuat sekitar 20 buah game klasik Playstation 1 ini. Kini, sebuah hal yang bahkan lebih aneh muncul.

Seorang gamer menemukan bahwa dengan menggunakan keyboard tertentu (sejauh ini merk Logitech dan Corsair), menghubungkannya via port USB, dan menekan tombol ESC, gamer bisa langsung mengakses menu emulator yang digunakan oleh Playstation Classic ini. Benar sekali, menu emulator. Ini berarti gamer yang sudah membeli Playstation Classic bisa melakukan banyak hal, dari menyuntikkan cheat, beberapa save state, hingga mengubah format game dari PAL menjadi NTSC misalnya. Belum jelas apakah menu ini adalah keteledoran ataukah memang sesuatu yang sengaja “dibiarkan” oleh Sony.



Ditunggu dengan antisipasi tinggi namun berakhir dengan angka penjualan yang tidak bisa dibilang memesona, Darksiders 3 memang berada di kondisi yang sulit saat ini. Review yang berakhir dengan nilai standar dan kepastian harus bersaing di tengah rilis game raksasa yang lain membuatnya tidak menjadi pilihan game wajib di akhir tahun 2018 yang begitu padat. Data penjualan langsung dari THQ Nordic dan Gunfire Games sendiri memang masih meluncur, namun “masalah” sepertinya mulai muncul dari data penjualan mingguan di pasar Inggris. Posisi rendah dan bahkan kalah dari Farming Simulator 19.

Data penjualan di minggu rilis akhirnya meluncur, dan dari data game fisik yang meluncur, penjualan Darksiders 3 di pasar Inggris memang tidak bisa dibilang menjanjikan. Untuk sebuah game yang cukup ditunggu, ia hanya berhasil menembus posisi 32 di minggu pertama rilisnya, sebuah posisi yang tentu saja mengecewakan untuk nama sebesar Darksiders 3. Lebih buruknya lagi? Penjualan versi fisiknya ini hanya berujung seperempat dari apa yang berhasil diraih game simulasi pertanian – Farming Simulator 19 di minggu pertama rilisnya. Kalah dari sebuah game yang punya pasar yang terhitung niche tentu saja cukup mengejutkan.




Rocksteady Studios memang tengah meracik sebuah game misterius yang sayangnya belum diumumkan kepada publik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka secara terbuka membantah bahwa ini akan berhubungan dengan Superman sama sekali. Di saat yang sama, sudah menjadi rahasia umum sepertinya bahwa tanggung jawab untuk melanjutkan franchise Batman akan dilakukan oleh WB Montreal – dev. sama yang sempat mengerjakan seri Arkham Origins beberapa tahun yang lalu. Untuk urusan yang satu ini, rumor terkait judul dan tema yang akan ia usung mengemuka.

Memastikan diri akan melewatkan The Game Awards 2018 mendatang, sebuah cuitan Twitter dari Assistant Manager WB Montreal – Valerie Vezina langsung memicu perbincangan hangat di dunia maya terkait seri Batman Arkham selanjutnya. Ia memang tidak membicarakan apapun, namun logo di pakaian yang ia kenakan adalah logo “Court of Owls”. Untuk Anda yang tidak familiar, Court of Owls merupakan organisasi rahasia di Gotham berisikan orang-orang kuat yang ingin menguasai kota yang satu ini. Tentu saja, Batman menjadi penghalang utama mereka. Rumor juga menyebut bahwa Court of Owls ini akan diposisikan sebagai sekuel langsung dari Arkham Origins itu sendiri.




Hampir semua penggemar game JRPG, terutama yang sempat menikmati era emas seri Final Fantasy sepertinya mengenal siapa itu Nobuo Uematsu. Benar sekali, ia merupakan komposer di balik musik-musik klasik dan legendaris Final Fantasy yang kemudian diikuti dengan beberapa game JRPG yang tidak kalah fenomenal seperti Lost Odyssey dan Blue Dragon. Terlepas dari semangat musiknya yang masih membara, usia memang mulai membatasi fisiknya. Ketakutan dari gamer penggemarnya memuncak ketika karena alasan kesehatan yang misterius, Nobou Uematsu memutuskan untuk hiatus di bulan September 2018 kemarin. Semua aktivitas yang melibatkan dirinya, termasuk konser dan tugas meracik lagu harus berhenti.

Sempat tenang tanpa berita sama sekali, Nobuo Uematsu hadir dengan berita baik. Lewat blog post resminya, ia mengumumkan bahwa kesehatannya pelan tapi pasti mulai memulih. Ia meminta maaf sudah membuat para fans khawatir karena kondisinya. Ia memang belum memutuskan untuk mulai mengambil dan mengerjakan tugasnya sebagai komposer saat ini. Pelan tapi pasti, ia akan mulai untuk menghadiri konser domestik (pasar Jepang) di tahun 2019 mendatang.




Berdiri di atas begitu banyak franchise potensial namun untuk alasan yang tidak jelas, tidak pernah tertarik untuk mengeksplorasi mereka, terutama di platform generasi terkini. Kalimat yang satu ini sepertinya jelas untuk membicarakan posisi Square Enix yang sepertinya “terjebak” dengan Final Fantasy setiap kali membicarakan proses pengembangan tim mereka yang berada di Jepang. Padahal, Square Enix juga merupakan pemilik hak atas nama begitu banyak judul populer, termasuk Front Mission dan Parasite Eve misalnya. Berita baiknya? Untuk nama yang terakhir ini, mereka sepertinya tengah merencanakan sesuatu.

Melihat nama “Parasite Eve” muncul sebagai salah satu game Playstation Classic untuk pasar Jepang tentu saja mengelitik sedikit rasa nostalgia. Namun sepertinya bukan itu satu-satunya yang akan dilakukan Square Enix terkait game yang menjadikan sosok Aya Brea sebagai karakter utama. Informasi terbaru melaporkan bahwa Square Enix baru saja mendaftarkan merk dagang atas nama “Parasite Eve” di Eropa. Tidak ada detail informasi lebih lanjut terkait untuk apa merk dagang yang satu ini, namun sinyal antara sekedar rilis ulang, proses remake, hingga seri teranyar tentu saja menguat. Square Enix belum memberikan komentar resmi apapun.



Kerja keras yang terbayar manis dan tercermin begitu kuat pada kualitas akhir game yang mereka racik, apa yang berhasil dilakukan Rockstar Games dengan Red Dead Redemption 2 memang pantas mendapatkan acungan jempol tersendiri. Game simulasi dunia barat liar tersebut tampil memesona hampir di semua aspek, dari pemilihan musik, detail kecil yang membuatnya terasa lebih realistis, kualitas lighting yang memesona, hingga cerita yang fantastis. Satu yang pasti, ia akan menjadi sebauh standar yang cukup sulit untuk dilampaui. Bagi CD Projekt Red – developer untuk seri The Witcher 3: Wild Hunt yang tidak kalah mengagumkan dan juga game terbaru – Cyberpunk 2077, RDR 2 adalah sebuah “target”.

Dalam presentasi teranyar mereka pada para investor, CEO CD Projekt Red – Adam Kicinski secara terbuka mengungkapkan rasa kagumnya pada kualitas dan detail yang ditawarkan oleh RDR 2. Ia mengaku bahwa mereka ingin mengembangkan game yang sama “rapinya” dengan apa yang berhasil dilakukan Rockstar dengan game koboi tersebut. Rockstar Games sekali lagi membuktikan bahwa sebuah game yang “mengagumkan” akan selalu berhasil meraih review super positif dan penjualan yang fantastis. Hal sama yang berusaha dicapai oleh CD Projekt saat ini. Apalagi ia juga melihat tren dimana gamer saat ini jauh lebih fokus untuk memainkan game-game besar saja, mengingat waktu bermain yang kian terbatas.



Sebuah franchise raksasa yang anehnya, bukan perkara mudah untuk diadaptasikan begitu saja ke dalam video game. Pertarungan melawan Alien super menyeramkan dengan gigi tajam dan kelincahan di dalam kegelapan ternyata tidak mudah ditranslasikan begitu saja dalam permainan interaktif. Beberapa berujung berhasil seperti Alien: Isolation dari SEGA dan Creative Assembly yang berhasil menonjolkan sisi horror dan membangun permainan dari sana. Sementara di sisi lain, banyak dari kita yang belum melupakan sosok Aliens: Colonial Marines dari Gearbox yang tak ubahnya mimpi buruk. Satu yang pasti, aksi makhluk menyeramkan yang satu ini belum berakhir.

Gamer sepertinya berkesempatan untuk terjun kembali ke dalam universe franchise Aliens lewat sebuah seri terbaru yang sepertinya akan mengusung nama “Alien: Blackout”. Bukan dari SEGA ataupun Creative Assembly, seri yang satu ini sepertinya ditangani langsung oleh 20th Century Fox dan diprediksi akan diumumkan pertama kalinya di acara The Game Awards 2018 mendatang.

Informasi ini meluncur lewat pendaftaran merk dagang yang jelas menginformasikan bahwa “Blackout” adalah sebuah video game. Ia juga didukung dengan teaser dari Geoff Keighley dan Hideo Kojima dengan sebuah gambar bertuliskan “Worlds Will Change” dengan huruf “W”-nya yang terlihat mirip dengan logo Weyland-Yutani, perusahaan fiktif raksasa dari franchise Alien. Sayangnya, tidak ada informasi siapa developer di balik game yang satu ini.