James Derulo's

Portfolio

Sebuah perubahan kebijakan yang memancing tanda tanya besar, kalimat ini sepertinya tepat untuk menjelaskan aksi sensor intens yang dilakukan Sony untuk beberapa judul yang memang menjadikan sensualitas sebagai daya tarik utama. Bahkan game terbaru sekelas Dead or Alive Xtreme 3: Scarlet sekalipun misalnya, akan punya konten sensual lebih berat di versi Nintendo Switch yang selama ini selalu diasosiasikan sebagai “konsol anak-anak”. Dengan beberapa game dengan pendekatan nyaris serupa dalam jangka waktu rilis beberapa bulan ke depan, tentu banyak gamer yang khawatir bahwa Sony akan kembali melakukan hal serupa. Namun setidaknya, ia sepertinya tidak akan terjadi untuk game terbaru Atlus – Catherine: Full Body.

Mengingat konten dewasanya yang cukup berat walaupun tidak pernah memperlihatkan ketelanjangan secara eksplisit, Catherine: Full Body yang dirilis untuk Playstation 4 dan PS Vita tentu bisa berujung jadi “korban baru”. Kekhawatiran tersebut lah yang sempat didengungkan oleh para fans lewat Twitter.

Namun akun resmi The Studio Zero – developer internal Atlus yang bertanggung jawab untuk proyek remake ini menegaskan bahwa mereka tidak akan menyuntikkan “cahaya silau” – alias metode sensor “favorit” di beragam proyek kreatif di Jepang. Mereka melakukan segala cara untuk memastikan hal tersebut untuk tidak terjadi. Untuk para fans yang khawatir, mereka mengucapkan terima kasih.




Wayforward, berapa banyak dari Anda yang mengenal nama developer yang satu ini? Jika fokus Anda hanya pada game-game AAA dengan model tiga dimensi, maka besar kemungkinan Anda akan melewatkan sepak terjang developer yang sempat menelurkan game indie side-scrollers yang memesona ini. Benar sekali, mereka merupakan otak di balik seri Shantae yang terus eksis hingga saat ini. Kemampuan meracik game side scrollers keren yang tidak perlu diragukan inilah yang akhirnya membuat sosok Koji Igarashi berujung mengandalkan mereka untuk menyelesaikan proyek yang cukup diantisipasi – Bloodstained.

Koji Igarashi resmi mengumumkan bahwa Wayforward akan terlibat dalam proses pengembangan akhir Bloodstained: Ritual of the Night. Ia menyebut Wayforward sebagai pilihan yang tepat karena pengalaman mereka menangani game dengan genre seperti ini. Developer ini akan lebih bertanggung jawab untuk menyempurnakan game yang sudah ada, sekaligus membenahi setiap bug yang muncul ke permukaan. Iga sendiri mengaku bahwa ada satu bug saat ini yang terus membuat Bloostained crash tanpa alasan yang jelas. Ia yakin keterlibatan Wayforward akan membuat Bloodstained tampil sebagai game yang selama ini ia visikan.



Anthem memang tengah jadi fokus Bioware dan EA saat ini. Game multiplayer yang didesain sebagai “jawaban” atas Destiny dari Activision tersebut memang terlihat memukau saat ini, kombinasi visual memukau, gameplay menggoda, dan dunia yang terlihat mengagumkan. Namun banyak gamer yang khawatir, apalagi setelah kasus Mass Effect Andromeda kemarin, bahwa ini adalah sinyal bahwa Bioware akan meninggalkan franchise RPG populer mereka yang lain, seperti Mass Effect dan Dragon Age. Namun tidak perlu banyak khawatir, salah satu dari mereka sepertinya akan diumumkan dalam waktu dekat ini.

Sejak Casey Hudson kembali ke Bioware, komitmen untuk mempertahankan franchise lawas dalam jalur pengembangan memang sudah dibicarakan sejak awal. Selain Anthem, game RPG populer mereka yang lain – Dragon Age sepertinya akan menjadi proyek selanjutnya. Hal ini digoda oleh Hudson sendiri lewat post blog resmi mereka. Ia menyebut bahwa dirinya dan Mark Darrah sudah terlibat dalam sebuah “proyek rahasia” terkait Dragon Age. Sebagai salah satu franchise terpenting studio ini, mereka senang akan melanjutkannya. Berita baiknya lagi? Mereka akan berbagi detailnya bulan depan. Besar kemungkinan di acara The Game Awards 2018 mendatang.



Kritik sepertinya tidak bisa lepas dari game multiplayer berbasis semesta Fallout yang baru saja dirilis Bethesda – Fallout 76. Tidak hanya kritik karena masalah kualitas gameplay dan bug yang mencederai pengalaman bermain saja, tetapi juga karena minimnya komunikasi Bethesda yang sepertinya “tidak ambil pusing” dengan beragam keluhan yang mengemuka tersebut. Kini masalah baru muncul. Gamer yang sudah menghabiskan uang sekitar USD 200 untuk edisi bundle spesial bernama “Power Armor Edition” melaporkan bahwa Bethesda sudah berbohong terkait konten tas khusus yang mereka dapatkan di dalamnya. Bentuknya dan bahannya tidak seperti yang diiklankan sebelumnya.

Di iklan, tas tersebut dituliskan akan menggunakan canvas sebagai bahan utama, yang tentu lebih bisa diandalkan dan terlihat lebih keren di saat yang sama. Namun nyatanya? Ketika tiba di tangan mereka, tas tersebut ternyata tidak demikian adanya. Ia menggunakan plastik nilon sebagai bahan dan terlihat begitu buruk dan tidak sesuai dengan iklan yang ada. Keluhan mengemuka dari semua gamer yang sudah memercayakan uang mereka dan meminta Bethesda untuk bertanggung jawab. Namun sayangnya, respon Bethesda bisa disebut, buruk.

Bagaimana tidak? Setelah e-mail dengan respon mengecewakan yang mengemuka, Bethesda seolah lepas tangan dengan keteledoran yang terjadi. Alih-alih berupaya memenuhi janji mereka dan mengganti tas nylon ini dengan versi kanvas yang seharusnya, mereka hanya “meminta maaf”. Bethesda menyebut bahwa kondisi terjadi karena material kanvas yang tidak tersedia hingga mereka harus mengubahnya menjadi nylon. Parahnya lagi? Sebagai “ganti rugi”, Bethesda akan memberikan gamer pembeli Power Armor Edition ini dengan mata uang in-game Fallout 76 sebesar 500 Atoms. Sebagai gambaran, 500 Atoms itu bisa dibilang senilai USD 5 di uang nyata, dan hanya bisa digunakan untuk membeli sebuah pintu dan beberapa bunga untuk markas Anda di dalam game.




Koei Tecmo memang pantas dinobatkan sebagai salah satu publisher Jepang yang secara aktif, masih menelurkan game-game dengan pasar yang jelas, terlepas dari apakah Anda setuju untuk menyebutnya “berkualitas” atau tidak. Bersama dengan Team Ninja, selain game fighting Dead or Alive 6 yang tengah dikerjakan bersama dengan game sensual Dead or Alive Xtreme 3: Scarlet yang juga akan menuju Nintendo Switch, ia juga masih secara aktif bekerja dengan Omega Force untuk menelurkan lebih banyak seri Musou. Tidak semuanya berhasil memang, namun satu yang pasti, publisher yang satu ini tidak akan berhenti begitu saja.

Seolah ingin memanfaatkan minggu hype untuk The Game Awards 2018, Koei Tecmo berencana untuk mengumumkan sebuah game baru di tanggal 6 Desember 2018 (waktu setempat) mendatang, atau sehari sebelum acara The Game Awards 2018 digelar dii Amerika Serikat. Tidak ada informasi mendetail terkait game ini selain sebuah teaser gambar penuh api dengan tulisan “The fated battle begins” alias “perang yang sudah ditakdirkan dimulai!”. Game ini sendiri rencananya akan dirilis untuk Playstation 4, Nintendo Switch, dan juga PC. Tidak ada informasi pula siapa developernya.




Semakin besar dan mewah setiap tahunnya, popularitas The Game Awards yang memang didesain untuk tampil sama prestisiusnya seperti Oscar untuk film dan Grammy untuk musik memang kian meningkat. Banyak developer dan publisher yang memilih untuk menggunakan event ini untuk memperkenalkan game baru mereka. Tidak hanya itu saja, sang penggagas acara – Geoff Keighley juga pelan tapi pasti mulai bisa mengajak pelaku industri lain untuk ikut meramaikannya. Untuk tahun 2018 ini, mereka bahkan berhasil mengundang Russo Brothers.

Untuk Anda yang tidak tahu, Russo Brothers – Joe dan Anthony Russo merupakan sutradara dari Marvel’s Avengers: Infinity War yang tampil menyihir banyak orang dan juga seri sekuelnya yang sayangnya, judulnya belum diumumkan kepada publik. Russo Brothers akan mempresentasikan dan membawakan sesuatu di atas panggung, namun masih misterius. Jika tidak trailer terbaru untuk seri Avengers selanjutnya, spekulasi mengarah ke proyek Avengers dari Square Enix dan Crystal Dynamics yang juga memang belum lagi punya informasi lanjutan setelah sebuah video teaser pendek.



Tidak pernah ada satupun pertempuran yang berjalan ataupun terasa sama, hal inilah yang membuat DOTA 2 berujung adiktif untuk gamer yang masih secara konsisten mencicipinya. Pertempuran 5 vs 5 di sebuah peta yang bentuknya selalu sama mungkin terdengar membosankan. Namun fakta bahwa ada setidaknya 116 hero yang bisa dipilih dan dikombinasikan membuat probabilitas kemana pertandingan bisa mengarah hampir tak terbatas. Bagi gamer DOTA 2, khususnya untuk kelas amatir, sistem seperti akan berujung membentuk kolam hero favorit yang bisa Anda gunakan dengan lebih baik. Namun menjajal semuanya di turnamen resmi? Itu adalah prestasi tersendiri.

Percaya atau tidak, salah satu pemain pro DOTA 2 berhasil meraih prestasi gemilang ini. Kuroky – kapten dari tim Liquid yang juga menjadi pemenang The International 2017 yang lalu menjadi pemain pertama yang berhasil menggunakan semua hero DOTA 2 – 116 hero – di turnamen kompetitif resmi. Hal ini berhasil dicapai Kuroky di babak kualifikasi Chongqing Major melawan Alliance, yang notabene memang terasa seperti pertandingan “main-main” mengingat kedua tim tersebut sudah memastikan diri lolos. Kuroky menggunakan Meepo dan Templar Assassin dalam dua pertandingan terakhir, yang memang merupakan dua hero terakhir yang belum pernah ia jamah.